Senin, 17 September 2012

WISH [part 1]


Created By : Bella


Srakk!! Hosh.. hosh..hosh…

“Ryo… kakak… dimana kalian..?? aku mohon jawablah..”, teriakku dengan napas tersengal-sengal.

BRUUKK!!

“jangan..hosh…tolong maafkan aku..maafkan aku...”, pinta ku sambil merangkak mundur menjauhi mereka.

Kkyyyaaaaaaaa!!!!

Teriakku sambil terbangun dari tidurku.

Mimpi itu lagi.. huuffffttt…

 Aku terdiam sejenak, melamunkan apa yang baru saja terjadi dalam mimpiku. Mimpi yang sama… selalu sama… sejak kami pergi meninggalkan tempat itu dan pindah ke rumah tua ini… rumah tua yang berada di bagian selatan kota Okami.

“honey.. time to wake up and go to your new school..!!”, teriak ayahku.

“ten minutes daddy..!!”, jawabku.

Langsung saja aku beranjak dari tempat tidur ku dan mengambil kimono ku dan bergegas pergi ke kamar mandi. Karena takut terlambat di hari pertama sekolah, aku hanya mencuci muka ku dan menggosok gigiku saja. Alasan lainnya aku hanya melakukan itu adalah karena hari ini adalah awal musim dingin. Suhu dikota ini saat musim dingin sangat berbeda dengan suhu ditempat tinggalku yang dulu. Suhu disini sangat dingin! Mungkin mantel bulu yang akan kugunakan nanti tidak akan ada gununya karena saking dinginnya kota ini. Setelah selesai, aku bergegas berpakain menggunakan seragam sekolah musim dingin ku dan langsung bergegas turun kebawah menuju ruang makan. Dimeja makan telah tersedia sarapanku dan sebuah kotak makan siang yang akan kubawa ke sekolah. Aku duduk dan mulai menyantap sarapanku. Sementara ayahku sedang duduk disofa depan tv dengan sebuah meja kecil disampingnya yang diatas meja tersebut terdapat secangkir kopi. Sambil menunggu ku sarapan dan memanaskan mobil, ayahku menghabiskan waktunya dengan membaca Koran hari ini.

“honey.. hurry up!!”, teriak ayahku sambil melipat Koran-koran yang ia baca tadi dan berjalan menuju garasi.

“coming daddy..”, jawabku.

Aku menyudahi sarapanku dan membersihkan semua piring kotor dari atas meja dan meletakkannya di tempat pencuci piring. Dengan segera aku berjalan menuju pintu depan, dan tidak lupa mengambil mantel bulu ku yang digantung di belakang pintu depan. Aku mengunci pintu depan dan berjalan menuju mobil yang telah berada di halaman depan. Tak berlama-lama, ayahku langsung meng-gas mobilnya menuju sekolah ku. 

“honey.. kamu mengertikan apa yang ayah katakana tadi malam kepadamu?”, tanya ayah.

“ya ayah.. aku mengerti..”, jawabku.

“sebisa mungkin kau harus bisa menahan rasa sakit itu selama kau berada di sekolah. Jika kau tidak bisa mengendalikannya, maka kau tahu sendiri akibatnya”, jelas ayah.

Aku hanya mengangguk sambil memperhatikan jalan. Bagaimana pun aku harus bisa menghafal rute jalan dari rumah ke sekolah. Karena bila ada sesuatu yang terjadi padaku, aku harus kembali ke rumah. Tak berapa lama kami telah memasuki gerbang sekolah. Halama sekolah sangat sepi, tak ada seorang pun yang berada di luar gedung sekolah, yang terlihat hanyalah salju putih yang menutupi hampir seluruh halaman sekolah. Aku turun dari mobil dan memasuki gedung sekolah bersama ayahku. Kami berjalan menuju ruang guru. Disana kami akan menemui seorang guru yang akan menjadi wali kelas ku nanti. Setelah memberikan semua berkas-berkas yang dibutuhkan untuk mengurus kepindahanku, aku berpamitan pada ayah ku dan berjalan mengikuti wali kelas ku menuju kelas.

“ingat pesanku ya..?”, peringat ayah.
Aku mengangguk. Lalu ayah pun berjalan keluar gedung sekolah.

Sesampainya di depan pintu kelas, wali kelas ku menyuruh ku untuk menunggu di depan pintu sampai ada perintah untuk masuk. Aku mengangguk dan dengan segera wali kelas ku masuk ke dalam kelas untuk menyapa para muridnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Setelah menyapa dan sedikit berbincang-bincang dengan para muridnya, wali kelas ku menyuruh ku masuk. Aku masuk kedalam kelas dan berdiri di depan kelas. Langsung saja semua mata tertuju padaku. Saat aku berdiri didepan kelas, aku merasakan atmosfer yang berbeda dari sekolah ku yang dulu. Atmosfer yang begitu mencekam serta hawa yang sangat dingin hingga menusuk ke dalam tulang-tulang ku. Wali kelas ku menyuruh ku untuk memperkenalkan diriku pada mereka semua. Aku mengangguk dan tersenyum.

“pagi semua.. perkenalkan namaku Wish Yumeka. Aku seorang magician. Rumah ku berada tepat disebelah selatan kota Okami. Disana aku tinggal dengan ayah ku yang bernama Lucyfer. Umur ku 17 tahun dan mulai hari ini aku akan bergabung dengan kalian semua disini. Salam kenal dan mohon bantuannya…”, ucapku memperkenal kan diri pada mereka.

“waahh… Ternyata ada seorang mage lagi di sekolah ini selain kita, Ryo!”, teriak Sylar yang duduk tepat di tempat ku berdiri.
Sedangkan cowok yang dipanggil dengan sebutan Ryo itu tak menyahut sama skali. Cowok itu duduk tepat disebelah jendela bangku nomer 4 dari depan.

“hoi Ryo!! Jiaahhh.. malah tidur.. hoi! Masih pagi jangan tidur mulu, dasar kebok! Hoi James, coba kau bangunkan dia”, teriak Sylar lagi.

“sudah-sudah.. kau ini jangan membuat keributan dihari pertama sekolah, Sylar. Nah Wish, sekarang kau boleh duduk dibangku kosong yang ada di depan James”,  perintah master Jake.

Bergegas aku menuju bangku ku dan seorang cowok yang duduk di belakang ku yang bernama James melihat kearah ku. Aku hanya tersenyum padanya, tapi dia membalas nya dengan tatapan dingin kepada ku. Langsung saja aku memalingkan pandanganku kearah bangku ku dan bergegas duduk.  Aku mengambil buku catatan ku dan beberapa alat tulis dan bersiap untuk pelajaran pertama, ya.. benar-benar pertama di sekolah ini. Saat aku terduduk diam di bangku itu, aku merasakan déjà vu yang sangat kuat.

Apa ini? Perasaan apa ini? Kenapa sepertinya aku pernah mengalami hal yang seperti ini?

Tanpa sadar aku langsung menoleh ke arah kiri ku. Aku melihat seorang cowo yang sedang tertidur pulas di meja nya. Tanpa sadar aku memandangi wajah cowok tersebut dan menyunggingkan senyuman pada nya. Ntah kenapa perasaan ku sangat lega dan tenang saat melihat nya.

Selama pelajaran berlangsung cowok yang berada disamping kiri ku masih tetap tertidur dengan pulas. Aku mulai heran dan khawatir dengannya, apa dia baik-baik saja atau tidak, sebab master  yang mengajar pun tidak memperdulikannya yang tertidur disaat pelajarannya. Karena aku benar-benar khawatir, aku terus-terusan memandanginya. Tiba-tiba master Jake memanggilku dan menyuruhku maju kedepan untuk menyelesaikan soal yang ia berikan di papan tulis. Tanpa berlama-lama aku menuju ke depan dan mengerjakan soal yang master berikan. Lagi-lagi aku mengalami déjà vu yang kuat saat ku sedang mengerjakan soal tersebut. Tapi kali ini aku tidak memperdulikan apa yang kurasakan. Aku tetap konsentrasi mengerjakan soal tersebut. Tak lama, master memeriksa jawaban ku, dan dia mengangguk dan tersenyum lalu mempersilahkan ku untuk kembali ketempat ku. Saat ku berjalan kembali menuju bangku ku, cowok yang tertidur pulas situ telah bangun. Dengan mengerjap-ngerjapkan matanya dia berusaha memfokuskan pandangannya kedepan. Saat dia benar-benar sadar dia malah melihat kearah ku dengan tatapan mata yang shock! Sempat aku sedikit terkejut dengan tatapan nya itu. Tapi aku langsung merilekskan diri dan kembali duduk dibangku ku. Cowok itu pun tetap shock dan langsung menundukkan kepalanya seperti akan menenangkan dirinya sendiri. Aku terus memperhatikannya dan mulai khwatir kembali padanya. Tiba-tiba bel tanda istirahat makan siang pun berbunyi. Karena aku masih sangat khawatir, aku bergegas ingin menanyakan keadaannya, tapi aku terlambat. Seorang cewek -berkulit putih, cantik dan manis layaknya sebuah boneka Lolita dengan kedua matanya yang bulat dan berbinar-binar serta bulu matanya yang panjang dan lentik itu dan senyumannya yang mempesona-menghapiri dirinya. Aku sebagai cewek langsung menyukainya dalam pandangan pertama.

“Ryu, kau tidak apa-apa?”, tanya cewek tersebut pada cowok yang ternyata bernama Ryu.

“iya.. aku hanya sedikit.. ahh sudahlah. Lupakan saja!”, jawab Ryu.

“hm.. ok, kalau begitu ayo kita makan siang bersama”, ajak cewek tersebut.

“maaf, kau makan saja sendiri. Hari ini aku sudah ada janji dengan Sylar untuk mentraktirnya makan siang..”, tolak Ryu dan berjalan keluar kelas.

Cewek itu pun langsung terdiam dan pergi dari tempat ia berdiri. Seketika aku membereskan semua buku-buku ku dan berjalan keluar kelas. Aku mengantri untuk membeli makanan di kantin academy. Aku tak menyangka akan sangat ramai begini, mengingat bahwa disekolah ku yang sebelumnya kami-para siswa-tidak harus mengantri berdesakkan seperti ini saat makan siang. Wajar saja kantin disekolah kusebelumnya seperti sebuah restoran bintang 5. Tapi hal itu sangat wajar karena seolah ku sebelumnya menggunakan sistem dormitory, jadi semua makanan telah tersedia di atas meja makan yang panjang dan kami hanya tinggal manyantapnya saja.

Lama mengantri dan berdesakkan dikantin, aku hanya mendapatkan sebungkus roti melon dan satu kotak susu. Aku pun bergegas pergi dari tempat itu dan mencari tempat makan siang yang cocok dihalaman academy. Saat sedang mencari tempat, tiba-tiba aku tersandung dan terjatuh seketika,

“aduuhhh.. kenapa ada orang yang meletakkan kakinya sembarangan?”, keluh ku.

“ah.. maafkan aku. Apa kau baik-baik saja?”, tanya seorang cowok pemilik kaki tersebut.

“ya.. gak pa-pa”, jawabku sambil menoleh kearahnya.

Seketika aku terkejut melihat wajahnya yang sangat dekat dengan wajahku. Perasaanku menjadi gak karuan. Hatiku berdebar-debar sekaligus aku merasakan rindu yang amat sangat dalam. Perasaan yang sangat spesil yang kurasa aku telah memilikinya sejak lama. Perasaan yang sempat menghilang dari diriku semenjak aku keluar dari tempat itu.. Tempat dimana aku tak bisa mengingatnya. Dan cowok tersebut juga memasang mimic yang lebih shock dariku. Dia menatap mataku dalam-dalam, seakan dia tidak percaya apa yang dia lihat oleh matanya.

“Akira..??”, katanya.

Badanku langsung gemeteran ketika dia menyebutkan nama itu dari mulutnya dengan suara lembut.

“Akira, kau kah itu..?”, katanya lagi sambil memelukku erat-erat.

Seketika air mataku keluar, mengalir tanpa henti. Seakan tak ada yang bisa menghentikannya. Rasa rindu itu meluap dari air mataku yang semakin deras mengalir. Ntah kenapa aku bisa merasakan semua ini.  Tanpa sadar aku pun telah memeluknya dengan erat. Seakan-akan tk ingin berpisah atau pun kehilangan dirinya lagi.

“oh.. Akira..”, katanya lagi.

Setelah sekian kali dia menyebutkan nama itu, aku mulai tersadar. Aku melepaskan pelukanku dan mendorongnnya menjauh dariku. Aku bersegera menghapus air mataku.

“ada apa Akira..?”, tanyanya.



“maaf.. aku tadi kelepasan memeluk mu. Aku bukanlah Akira”, kataku.


*To be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar